Selasa, 30 Januari 2024

RABB, aku…


 

Aku bersandar pada Mu ya RABB

Aku bersandar padaMu ya RABB

 

Saat tak ada tempat bagi batin yang menyimpan sesak nafas

Saat tak ada tempat lagi bagi raga yang menimbun lelah

Saat tak ada tempat lagi bagi pundak yang mengangkat beban

Saat tak ada tempat lagi bagi yang menahan tangis

 

Mengharap kekuatanMu

Mengharap tuntunanMu

Mengharap ibaMu

 

Kantor, 6 Maret 2013



#dibuangsayang

Tak sengaja nemu puisi yang ditulis hampir 11 tahun lalu, 

tak ingat juga, dalam keadaan apa puisi ini tercipta,

namun memang demikianlah kita... 

menggantungkan diri hanya pada Rabb Tuhan Semesta Alam...

disetiap detik, disetiap langkah...


Pembuka tulisan diawal tahun 2024.



Kamis, 26 Oktober 2023

Optimalisasi Peran & Fungsi Dinas Perpustakaan & Kearsipan dalam Meningkatkan Daya Saing Kota Yogyakarta



Pengantar

Tulisan berikut adalah ide tulisan ketika mengikuti Seleksi JPT untuk jabatan Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Yogyakarta pada bulan Juni 2023 yang lalu. Dalam seleksi JPT salah satu tahapan adalah menuliskan makalah dengan tema yang telah ditentukan dalam waktu 3 jam, yang kemudian akan "dikulik" pada tahapan wawancara sehari setelahnya. Tema yang disodorkan terkit Daya saing & Kolaborasi. Dua kata yang jamak dikenal berpasangan dalam upaya meningkatkan kinerja sebuah pemerintahan dalam rangka meningkatkan layanan pada masyarakat. 

Semoga bermanfaat & selamat membaca!


A. Latar Belakang


Kota Yogyakarta adalah kota dengan banyak predikat, disamping sebagai Kota Pendidikan, Kota Budaya dan Kota Pariwisata. Dikenal sebagai Kota Pendidikan, karena Yogyakarta sebagai dipandang sebagai barometer pendidikan di Indonesia, banyak sekolah-sekolah dan perguruan tinggi ternama berada di Yogyakarta, sebagai Kota Budaya, mengingat adat istiadat dan budaya Jawa yang masih kental dan lestari. Dikenal sebagai Kota Pariwisata karena dalam tiap tahunnya banyak wisatawan baik mancanega maupun nusantara yang berkunjung ke Kota Yogyakarta untuk menikmati keelokan kota yang dikenal ramah dan  ngangeni”, sehingga tidak berlebihan apabila banyak bermunculan ungkapan ungkapan atau quote yang menggambarkan pengalaman, rasa dan karsa ketika berkunjung ke Yogyakarta. “Jogja terbuat dari rindu, pulang dan angkringan”, “setiap sudut Kota Jogja itu romantis” dan masih banyak lagi. Bahkan Sujiwo Tedjo, mengatakan “Pergi ke Jogja adalah cara menertawakan kesibukan orang Jakarta.” Hal tersebut menunjukkan bahwa secara alami Kota Yogyakarta adalah kota yang nyaman untuk dikunjungi, tak heran, predikat Kota Pariwisata melekat dalam dan mengakar, tinggal bagaimana menjaga hal tersebut.

Dalam Rencana Pembangunan Daerah Kota Yogyakarta tahun 2023 – 2026, menyebutkan bahwa visi Kota Yogyakarta adalah mewujudkan Kota Yogyakarta sebagai Kota Pendidikan yang Berkualitas, Pariwisata Berbasis Budaya dan Pelayanan Jasa yang Berwawasan Lingkungan. Dan diturunkan dalam misi pembangunan untuk mewujudkannya. Dimana pariwisata sebagai lokomotif yang menarik gerbong kereta pembangunan Yogyakarta, peran serta seluruh perangkat daerah dan stakeholder diperlukan untuk meningkatkan daya saing kota Yogyakarta sebagai Kota Pariwisata, agar sector ini tidak tergilas dengan maraknya kota kota yang berlomba lomba memperoleh predikat sebagai Kota Pariwisata.

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Yogyakarta sebagai perangkat daerah yang walaupun membawahi urusan perpustakaan dan kearsipan, tentunya tidak terlepas dari tanggung jawab tersebut, Perpustakaan Daerah, yang menempati lokasi di kawasan strategis premium dalam pengembangan Wisata Kotabaru Herritage. Banyak hal yang dapat dilakukan untuk turut serta ikut andil dalam meningkatkan daya saing Yogyakarta sebagai Kota Pariwisata, tanpa meninggalkan tugas pokok dalam pengembangan budaya literasi warga masyarakat Kota Yogyakarta. Demikian juga di bidang kearsipan, penelurusan arsip akan sejarah perkembangan Kotabaru sangat penting bagi narasi rencana pengembangan kota secara umum. 


B.     Rumusan Masalah

Bagaimana mengoptimalkan peran dan fungsi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Yogyakarta untuk meningkatkan daya saing Kota Yogyakarta sebagai Kota Pariwisata?

 

C.    Analisa

1.      Kondisi saat ini

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Yogyakarta adalah perangkat daerah yang membawahi urusan perpustakaan dan kearsipan. Apabila dilihat dari Rencana Pembangunan Daerah Kota Yogyakarta tahun 2023- 2026, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah mempunyai sasaran meningkatkan kualitas pendidikan dan kapasitas tata kelola pemerintahan. Adapun strategi untuk pencapaian sasaran tersebut, dibedakan menjadi 2, yaitu strategi bagi urusan perpustakaan dan strategi bagi urusan kearsipan. Strategi bagi peningkatan kualitas Pendidikan, yaitu: 1) meningkatkan kepuasan layanan perpustakaan; 2) meningkatkan standar perpustakaan sesuai Standar Nasional Perpustakaan; 3) meningkatkan kualitas bahan pustaka; dan 4) meningkatkan peran serta masyarakat dalam penyimpanan, perawatan, pelestarian dan pendaftaran naskah kuno.

Sedang dalam sasaran meningkatkan kapasitas tata kelola pemerintahan, terdapat 3 strategi, 1) meningkatkan kualitas pengelolaan arsip; 2) meningkatkan kualitas perlindungan dan pengamanan arsip; 3) meningkatkan kualitas informasi dan akses layanan kearsipan.

Adapun indikator kinerja pada bidang perpustakaan, yaitu 1) Rasio jumlah perpustakaan 2) Rasio jumlah perpustakaan per 10.000 penduduk; 3) Jumlah pengunjung perpustakaan dan 4) Jumlah koleksi buku yang tersedia. Sedang dalam bidang kearsipan, indikator kinerja adalah banyaknya jumlah OPD yang melaksanakan kearsipan secara baku dan peningkatan SDM kearsipan di lingkungan Pemerintah Kota Yogyakarta. Dari indikator kinerja tersebut, dapat disimpulkan bahwa layanan pada Dinas Perpustakaan dan Kerasipan Kota Yogyakarta memiliki 2 sasaran yang berbeda. Pada bidang perpustakaan, sasaran layanan adalah masyarakat secara umum atau layanan publik, sedangkan dalam bidang kearsipan, sasaran layanan lebih pada pembinaan dan peningkatan kualitas pengelolaan arsip di lingkungan pemerintahan.

2.      Kondisi yang Diinginkan

Sebagaimana dijelaskan pada latar belakang, bahwa untuk mewujudkan visi Kota Yogyakarta sebagai Kota Pendidikan yang Berkualitas, Pariwisata Berbasis Berbudaya dan Pelayanan Publik yang Berwawasan Lingkungan. Seluruh stakeholder yang menjalankan pemerintahan serta swasta maupun warga masyarakat tentunya harus mengambil peran dalam pencapaian visi tersebut. Sebagai kota tujuan wisata dengan bidang pariwisata sebagai lokomotif pembangunan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan perlu mengambil peran yang proporsional dan strategis tanpa meninggalkan tugas pokok dan fungsinya dalam ikut meningkatkan daya saing kota Yogyakarta di bidang pariwisata.

Salah satu Kawasan wisata yang sedang dikembangkan di Kota Yogyakarta adalah Kawasan Kotabaru. Kawasan yang bertujuan untuk mengangkat cagar budaya Kotabaru, dengan 4 pilar, yaitu heritage, garden city, premium dan malam hari. Dengan brand Kotabaru Herritage, Kawasan ini diharapkan dapat menjadi magnet wisata malam hari selain Malioboro.

Perpustakaan Daerah Kota Yogyakarta, yang berada dalam wewenang dan tanggungjawab Dinas Perpustakaan dan Kearsipan menempati lokasi pada Kawasan premium tersebut, sebagai perangkat daerah yang bertujuan untuk mengembangkan budaya literasi masyarakat, bukan berarti “tutup mata” dengan pengembangan Kawasan yang ada di sekitarnya. Banyak program dan aktivitas yang dapat dilakukan untuk ikut mendukung pengembangan program tersebut. Dengan aktivitas yang menarik, pembenahan fisik dan sarana prasarana perpustakaan serta pengelolaan perpustakaan yang handal, pastinya akan meningkatkan peran bagi Dinas Perpustakaan dan Kerasipan untuk mensukseskan program pengembangan tersebut yang pada akhirnya sedikit memberi peran bagi peningkatan daya saing Kota Yogyakarta pada bidang pariwisata.

Dalam bidang kearsipan, sudah saatnya, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan menjadi center of excellence atau pusat rujukan segala informasi terkait Kota Yogyakarta dan Pemerintah Kota Yogyakarta. Yang akhirnya dapat meningkatkan daya saing Kota Yogyakarta.

 

3.      Inovasi

a. Kolaborasi sebagai strategi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan dalam rangka peningkatan daya saing kota Yogyakarta sebagai pariwisata

Tidak mudah memang untuk mewujudkan suatu program di luar kegiatan regular yang selama ini dijalankan, diperlukan konsep yang matang, pengelolaan sumberdaya yang efektif dan efisien serta keberanian untuk mencoba hal baru dan merubah kebiasaan. 

Program peningkatan peran Dinas Perpustakaan dan Kearsipan yang bertujuan untuk ikut andil dalam meningkatkan daya saing Kota Yogyakarta di bidang pariwisata tentunya tidak dapat berjalan sendiri, mengingat membutuhkan sumber daya yang tidak semuanya dimiliki oleh Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta. Sehingga diperlukan kolaborasi dengan pihak lain.

Kolaborasi secara umum sering diartikan sebagai suatu pola dan bentuk hubungan yang dilakukan antar individu atau kelompok/organisasi untuk saling berbagi saling berpartisipasi dan saling bersepakat untuk melakukan tindakan bersama dengan cara berbagi sumber daya, berbagi informasi, berbagi manfaat dan berbagi tanggung jawab dalam pengambilan keputusan bersama untuk menggapai tujuan. Dalam kolaborasi dibutuhkan komitmen yang kuat dan kesepahaman.

Sedangkan daya saing adalah kemampuan atau keunggulan yang digunakan untuk bersaing pada pasar tertentu. Adapun indikator daya saing, diantaranya adalah  kualitas layanan, kualitas produk, pertumbuhan dan produktivitas tenaga kerja, frekuensi peluncuran produk baru (inovasi), pertumbuhan nilai tambah,

 

b.      Pengembangan Perpustakaan sebagai Co-Working Space

Dengan diluncurkannya Wisata Kotabaru Herritage dengan “malam hari” sebagai pilarnya, Perpustakaan Kota Yogyakarta dapat dikembangkan sebagai tempat kreatif untuk “kerja dan diskusi bareng” atau co-working space, tempat diskusi dan belajar bagi mahasiswa dan pelajar serta warga masyarakat yang beroperasi sampai malam hari.

Revitalisasi atau penataan landscape perlu dilakukan untuk mendukung hal tersebut, sehingga ambience yang tercipta sejalan dengan situasi kawasan Kotabaru yang bernuansa indische. Dimana fungsi perpustakaan tidak hanya sebagai wahana pengembangan literasi tetapi juga menguatkan ikon Kota Yogyakarta sebagai kota pendidikan, wisata dan budaya sekaligus.

Tidak hanya itu, kolaborasi dengan dunia usaha yang berada disekitarnya juga perlu dilakukan. Kolaborasi dapat dilakukan dengan café di dekat perpustakaan, misalnya dengan Silol Café and Eatery). Adapun bentuk kolaborasi dapat berupa:

1)   Pengunjung perpustakaan dapat memesan makan dan minum yang disajikan di café dari perpustakaan, sebaliknya apabila area perpustakaan penuh, pengunjung perpustakaan dapat membaca di café tersebut.

2) Akses layanan perpustakaan yang bersifat online (misalnya e-book) dapat diakses langsung dari pengunjung café.

3)     Pengembalian buku/bahan Pustaka dapat dilakukan di café

4)     Penempatan buku/bahan Pustaka di salah satu sudut di café tersebut.

5)    Penyelenggaraan event literasi bersama di cafe (misalnya: bedah buku, diskusi dan lain sebagainya)

Kolaborasi juga dapat dilakukan dengan Dinas Pariwisata yang berlokasi tepat disamping perpustakaan, misalnya, pemanfaatan lahan parker untuk pengunjung perpustakaan diluar jam kantor (malam hari dan hari libur).

 

c.       Pengembangan Layanan Arsip sebagai Center of Excellence

Menurut Liang Gie, ada perbedaan pengertian antara arsip dan kearsipan. Arsip adalah sekumpulan warkat atau dokumen yang disimpan secara sistematis karena memiliki suatu kegunaan dan apabila diperlukan, dapat dengan mudah ditemukan kembali. Adapun kearsipan adalah ilmu dan cara mengelola arsip menurut yang dijelaskan olehnya. Dalam pengertian kearsipan, termasuk di dalamnya mulai dari penciptaan arsip, penyimpanan arsip, penggunaan arsip, penyelamatan dan pemeliharaan arsip sampai pada penyusutan dan pemusnahannya. Dilihat dari makna, kearsipan tidak hanya mengelola dokumen atau benda mati, namun menunjukkan adanya keilmuan dan aktifitas yang dinamis.

Berdasarkan siklus hidup arsip yang telah disebutkan, untuk menuju center of excellence Kota Yogyakarta dan Pemerintah Kota Yogyakarta, perlu adanya penguatan dari pengumpulan dan pemanfaatan arsip. Dari arsip yang sudah terkumpul maupn dari hasil pengumpulan perlu dilakukan kajian atau riset untuk kemudian menciptakan suatu naskah atau buku yang merupakan wajah dan jatidiri Kota Yogyakarta.

Adapun untuk mewujudkan tujuan tersebut, diperlukan kolaborasi dengan:

1)    Perangkat daerah dengan memberikan hak akses atau dokumen arsip yang terkait dengan Kota Yogyakarta dan Pemerintah Kota Yogyakarta

2)    Perguruan Tinggi dalam hal penguatan pengkajian arsip

3)    Pihak eksternal lainnya, dalam hal tertentu untuk penelusuran arsip

Dengan adanya center of excellent, akan mempermudah akses informasi tentang Kota Yogyakarta dan Pemerintah Kota Yogyakarta serta memperkokoh eksistensi Kota Yogyakarta yang pada akhirnya meningkatkan daya saing.

 

D.    Kesimpulan

Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa:

1. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Yogyakarta hendaknya berperan aktif dalam meningkatkan daya saing Kota Yogyakarta sebagai Kota Pariwisata tanpa meninggalkan peran dan fungsi utamanya

2.   Untuk mengoptimalkan peran dan fungsi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Yogyakarta untuk meningkatkan daya saing Kota Yogyakarta sebagai Kota Pariwisata adalah dengan berkolaborasi dengan berbagai pihak dalam hal pengembangan layanan.

 

E.     Rekomendasi

Untuk mengoptimalkan peran dan fungsi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Yogyakarta dalam hal meningkatkan daya saing Kota Yogyakarta sebagai Kota Pariwisata, perlu dilakukan adalah: 1)  Pengembangan Co Working Space Perpustakaan Kota Yogyakarta dan 2) Pengembangan center of excellence Kota Yogyakarta dan Pemerintah Kota Yogyakarta.

Selasa, 13 Desember 2022

Ini Tentang Pak Anwas #4 Nek arep mulyo uripmu, senengono ibumu.


 

Sekitar satu minggu sebelum bapak dipundhut Allah SWT, ibu dan rombongan pengajiannya ber-Wisata Religi ke Cirebon. Cuma satu hari, pagi berangkat, sore sebelum maghrib direncanakan sudah pulang. Namun sampai pukul setengah delapan, ibu belum juga pulang, dan Bapak dengan kekhawatirannya yang tampak jelas menunggu di warung sambil jalan bolak balik warung - teras rumah. “Ibumu kok durung mulih yo Na’?”, pertanyaan yang tidak hanya sekali dua kali saya dengar selama beberapa puluh menit jaga warung sambil sesekali buka buku pelajaran yang hanya dibuka tapi tidak dibaca. “Bentar lagi paling Pak, mungkin masih di jalan,” jawab saya spontan. 



Malam itu tidak seperti biasanya, setelah sholat maghrib dan nderes, bapak nemenin saya jaga warung. Karena ibu “piknik” ke Cirebon, jadi sehabis pulang sekolah sampai tutupnya warung, saya dan Ita, adik bontot yang saat itu kelas 3 SMP, bergantian jaga. Pada hari hari biasa, warung ibu tutup pukul 09.00 malam, tapi tidak malam itu, belum jam 08.00, bapak sudah menyuruh saya menutup warung. Setelah warung ditutup, bapak duduk di teras menunggu ibu pulang, untuk beberapa menit saya menemani bapak, kasian kalau diluar sendiri pikir saya. Tidak banyak obrolan dengan Bapak malam itu, Bapak cenderung diam, padahal, biasanya ada saja bahan obrolan. Dua kalimat Bapak yang masih saya ingat malam itu, “Nek arep mulyo uripmu, senengono ibumu… Suk ibu karo adhimu dijogo yo Na’”. Kemudian menyuruh saya masuk rumah sinau istirahat dan bapak tetap menunggu di teras sampai ibu pulang bersamaan dengan jingle pembuka “Dunia dalam Berita”-nya TVRI.


Tidak ada firasat apa apa malam itu, tidak terpikir juga kalau itu pesan “terakhir” bapak sebelum beliau meninggalkan kami selamanya dengan sangat mendadak. Kalimat pertama sering saya dengar dari Bapak, tapi yang kedua, baru kali itu disampaikan. Kiranya tidak sekali dua kali Bapak berpesan terkait bakti dan hormat pada orangtua, khususnya ibu. Pesan yang sama pernah disampaikan Bapak ketika malam-malam diajak beli Mie Semplo di Slawi Pos, kami jalan kaki ke tempat jualan bakmi yang menurut saya lumayan jauh, Bapak memilih jalan kaki dan pulangnya naik becak, maklum, Bapak tidak bisa mengendarai motor (kayak saya 😁). Sambil menunggu antrian bakmi nya digoreng untuk kemudian dibungkus dan dibawa pulang, Bapak cerita kalau ibu suka sekali dengan Mie Semplo, tidak kerso mie yang lain, kecuali ibu masak sendiri, dan sampai sekarang pun demikian, cuma ganti warung, kalau dulu Mie Semplo, sekarang ganti Mie Wahyu Kagok, karena Mie Semplonya sudah tidak jualan. Malam itu, Bapak beli buat ibu, ibu lagi pengin dahar mie, dan kami berduapun jalan kaki ke warung yang jaraknya lebih 1,5 kilometer dari rumah. “Seneng-senengono ibumu, insyaallah mulyo uripmu”, pesan Bapak.


Pernah ketika saya sedikit bicara kasar pada ibu, menimpali ucapan ibu, karena “kesal” ditegur hanya gegara pulang sekolah telat untuk ikut rapat mendadak seusai sekolah. Sebenarnya Mas Anton, kakak saya sudah “nyamperin” ke sekolah pakai sepeda balapnya, “Na’ suruh ibu pulang, makan dulu” kata Mas Anton di depan kelas, karena tanggung masih rapat, sehingga saya tidak langsung pulang, tapi menunggu pertemuannya usai. Bapak yang mendengar ucapan saya, langsung menegur dan mengingatkan. Awalnya saya mengira pesan dan teguran Bapak karena cintanya terhadap ibu, sehingga hati dan perasaan ibu harus selalu dijaga juga oleh anak-anaknya, sebagaimana Bapak menjaga hati ibu. Namun ternyata lebih dari itu. 


Allah memerintahkan kita untuk berbakti dan hormat pada orangtua, serta melarang menyakiti hati mereka, bahkan ucapan “uh” atau “ah” saja dilarang dilontarkan.

Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (Al Isra`: 23).


Rasulullah menekankan anak wajib berbakti kepada orangtua, mendurhakai orangtua termasuk dalam dosa besar dan disejajarkan dengan dosa syirik. 

Abu Bakrah meriwayatkan, Rasulllah ﷺ berkata “Maukah aku memberitahumu tentang dosa besar yang terbesar?”, sebanyak tiga kali, Mereka menjawab “Ya, Rasulullah.” Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda, “Menyekutukan Allah dan tidak berbakti kepada orang tua.” (HR Bukhari).


Lebih khusus lagi pada ibu, Allah menempatkan tempat yang istimewa bagi seorang ibu, sehingga kewajiban berbakti pada ibu 3 kali lebih dahulu barulah ayah.

Dari Abu Hurairah, dia berkata, ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW dan bertanya: ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku perlakukan dengan baik?’ Rasul pun menjawab: ‘Ibumu’. ‘Lalu siapa lagi?’, ‘Ibumu’. ‘Siapa lagi’, ‘Ibumu’. ‘Siapa lagi’, ‘Ayahmu.”

 

Betapa Islam menempatkan tempat yang mulia bagi seorang ibu.

Dalam satu riwayat dikisahkan, satu saat Ibnu Umar datang menghadap kepada Rasulullah. Ia bertanya, 'Ya Rasulullah, aku tidak bisa melihat Allah itu seperti apa, tetapi bagaimana caranya aku ingin merasakan kalau Allah sedang tersenyum kepadaku? dan kata Ibnu Umar aku tidak bisa melihat wajahnya Allah, tetapi aku ingin tahu seperti apa Allah tersenyum kepadaku?'. Maka Rasulullah menjawab, wahai Ibnu Umar, kalau kamu ingin membuat wajah Allah tersenyum kepadamu, maka buatlah senyum di wajah ibumu.


Sebagai Hamba Allah dan umat Rasul-NYA, sudahlah menjadi kewajiban kita untuk mematuhi perintah-NYA, dan mengikuti ajaran Rasulullah. Jika Allah memerintahkan kita untuk berbakti pada kedua orangtua, terlebih ibu, patuhilah. Jika Rasulullah mengajarkan bagaimana seharusnya kita bersikap pada kedua orangtua, terlebih ibu, ikutilah. Jika kita mematuhi perintah NYA dan mengikuti ajaran Rasul-NYA, insyaallah Allah akan menolong kita. Mencukupkan kebutuhan kita. Memuliakan hidup kita. Sesederhana itu. Seperti pesan Bapak, “Nek arep mulyo uripmu, senengono ibumu…” 





Ada surga di telapak kakinya, apalagi dalam doanya.

Selamat Hari Ibu.

- 22 Desember 2022 -


Jumat, 10 Juni 2022

Ini Tentang Pak Anwas #3 Ojo Gumunan


Semacam menjadi kebiasaan bagi keluarga Pak Anwas, untuk cerita tentang hal-hal kecil kejadian-kejadian hari itu pada saat makan malam. Tradisi ini, kalau bisa dibilang demikian, berlangsung sejak saya masih kecil. Di meja makan, serasa kami dapat bercerita apapun, dari cerita
receh, lelucon hasil kulakan teman, cerita guru sejarah yang kalau mengajar seperti “rekaman” karena materi sudah diluar kepala, sampai pada diskusi berat, tentang hukum evolusinya Darwin, sisa diskusi pelajaran biologi dengan Pak Daryono, guru SMA N 1 Slawi. Namun, namanya juga banyak anak, tidak semua dari kami fasih bercerita, ada yang ceriwis dapat menceritakan secara detail kejadian tadi siang berikut gaya menirukan kejadian tadi siang, ada yang kalau bercerita tidak selesai dan melompat-lompat karena keburu cerita bab lainnya, ada yang gagap sehingga harus di-dor supaya cerita jalan terus, tapi ada juga yang hanya menjadi pendengar dan kemudian berkomentar sedikit tapi mengundang gelak tawa. Di tengah-tengah “prosesi” itulah, tanpa kami sadari, seringkali terselip nasihat-nasihat Bapak, halus, mengalir dengan gaya kocaknya. 

Pernah satu waktu, dengan penuh semangat dan bebui-bui (kata orang Sabah) saya bercerita tentang hebatnya teman sudah bisa nyetir mobil sendiri. Waktu itu, saya dan tiga orang teman sekolah ada acara di Tegal, latihan “fashion show” kalau tidak salah, jarak antara Slawi - Tegal kira kira 14 km, biasanya kalau ke Tegal, kami naik “Kijang Kuning”, angkutan umum Slawi - Tegal, tapi hari itu kami naik mobil warna merah maroon yang disopiri sendiri oleh teman saya. Rasanya beda, nyaman, sejuk dan lebih cepat, karena tidak harus kepanasan dan berdesakkan seperti naik “Kijang Kuning”, dan yang kalau ngetem, waktunya bisa lebih lama daripada waktu tempuh Slawi - Tegal. “Anak perempuan nyetir mobil lho Pak”, penegasan cerita saya waktu itu.

Komentar Bapak cukup singkat, “ojo gumunan”. Pada awalnya saya tidak begitu paham dengan kalimat tersebut, karena Bapak menyampaikannya dengan nada canda khas beliau, namun ketika obrolan berlanjut, terajut benang merah pesan yang disampaikan. Kalau diartikan dalam bahasa Indonesia, ojo artinya jangan. Sedang gumunan berasal dari kata gumun, yang artinya kagum, gumunan artinya mudah terkagum-kagum, sehingga ojo gumunan dapat diartikan jangan mudah terkagum-kagum, atau bahasa gaulnya sekarang “B aja kali”.  

Tidak hanya kali itu frasa tersebut terucap, di beberapa obrolan “ojo gumunan” akan kembali terdengar, ketika saya, kami, anak-anaknya atau bahkan ibu, menceritakan kehebatan atau kelebihan orang lain secara berlebihan. Bapak tak lelah mengingatkan kami untuk tidak terlalu kagum dengan apa yang dimiliki orang lain, karena khawatir muncul sifat membanding-bandingkan dengan apa yang kita miliki. Akan terkikis rasa syukur yang awalnya tertanam di hati, tergantikan dengan rasa iri dan ingin memiliki lebih. Demikian terang Bapak. Ketika menginginkan lebih, mencari jalan untuk mendapatnya, mengabaikan aturan dunia dan hukum Allah, lupa kalau hidup adalah perjalanan menuju satu titik. Kadang tidak berhenti disitu, berlanjut mencari tahu lebih banyak tentang orang tersebut untuk dibicarakan, yang akhirnya membicarakan hal yang bukan hak kita. Ghibah, fitnah mungkin saja terjadi. 

Tidak hanya itu, gumunan dengan kelebihan orang, juga akan memunculkan rasa rendah diri, menganggap kita lebih rendah dari orang tersebut, atau sebaliknya, ketika kita yang berada di posisi “atas”, memandang rendah orang-orang disekitar kita. Hilanglah rasa saling menghormati dan saling menghargai, hubungan silaturahmi tertutup dengan label kekayaan, gelar, pangkat dan jabatan.

Sesederhana itu frasa yang digunakan Bapak. Namun apabila ditarik lebih jauh, mengandung pesan yang tidak sependek frasanya. Mungkin supaya mudah diingat jika suatu saat terjebak di lini masa seperti itu. So, kalau melihat ada orang yang punya koleksi mobil sampai 18 unit, atau bertemu teman lama yang sudah berpangkat tinggi, satu frasa yang mudah diingat, ojo gumunan, karena kita tidak tahu apa yang ada dibalik itu. (fie’)

 

Senin, 04 April 2022

Ini Tentang Pak Anwas #2 (nDuwe Gusti Allah kok Bingung…)


 

Pusat Latihan Dakwah Keningau, Sabah dulu.
Kalau boleh dibilang, tingkat kepasrahan Pak Anwas pada Allah SWT itu 100%, mungkin itu juga yang menjadikan Bapak selalu terlihat tenang dalam menjalani kehidupan. Tak pernah keluar kata-kata keluhan atau menyalahkan situasi yang tengah berlangsung, jangankan keluhan, helaan nafas panjang saja tak pernah kudengar. “nDuwe Gusti Allah kok bingung…” demikian satu kalimat yang sering terdengar dari Bapak ketika ada nada keluhan atau keberatan dari Ibu atas keputusan dan sikap Bapak dalam menangani suatu permasalahan. 


Bapak menyandarkan kehidupan sepenuhnya pada Allah, tidak pernah mengkhawatirkan akan rezeki  apalagi kehilangan jabatan. Prinsip hidupnya sederhana, berbuatlah karena Allah, yakinlah bahwa Allah-lah yang mengatur segalanya. Bapak adalah seorang Kepala Pusat Latihan Dakwah Keningau sewaktu di Sabah, Malaysia. Saya kurang tau peran Bapak, atau sampai sejauh apa “pengaruh” Bapak dalam masyarakat dan Pemerintah Sabah saat itu. Yang saya ingat, Bapak sangat dihormati dan disegani oleh orang-orang di sekelilingnya, Bapak selalu duduk di barisan depan pada acara formal yang beberapa kali saya ikuti bersama Ibu dan Ita, adik saya, serta di rumah, kami sering kedatangan tamu dengan banyak pengawalan. Kehidupan kami di Sabah, bisa dikatakan lebih dari cukup. 

Namun, sejak Bapak memutuskan untuk membawa keluarga pulang ke Slawi, terasa sekali perubahan dalam kehidupan kami. Entah karena saya yang sudah “beranjak dewasa” sehingga dapat merasakan permasalahan yang tersirat atau karena memang perubahan itu begitu tersurat. Di Sabah Bapak memiliki kedudukan yang tinggi dengan rumah dan kantor yang bagus, sedang pada tahun awal kami di Slawi, Bapak lebih banyak di rumah dan berkiprah di Muhammadiyah. Kalau waktu di Sabah, Ita dan saya bisa jajan es krim atau cadbury atau sotong bakar tumbuk yang rasanya manis gurih pedas setiap hari, tapi di Slawi, pola kehidupan kami berubah. Sebatang coklat silverqueen sudah terasa mewah, bukan hanya karena harganya yang terlalu tinggi bagi uang jajan kami, tapi juga mencoba beradaptasi dengan “budaya” yang berbeda antara Sabah dan Slawi.  

Alhamdulillah, situasi yang demikian tidak membuat saya sedih atau marah. Walaupun pernah pada suatu saat saya ingin sekali memiliki kaos yang dipajang di etalase Toko Indah Putra (toko pakaian terkeren di Slawi saat itu), kaos oblong warna putih bergambarkan personil “New Kids on the Block”, grup band dengan lima orang anak muda ganteng dari Boston yang terkenal dengan lagunya “Step by Step”, saya harus menyisihkan uang jajan untuk beberapa lama, dan ketika tabungannya cukup, kaos sudah tak terlihat lagi di etalase toko, “habis terjual” kata TaCik nya. Kecewa, tentu, tapi tak lama, dalam hati terbersit kata-kata, “belum rejekinya”, dan ya sudah. 


Sejak kecil saya belajar menghadapi dan menerima kondisi yang ada, tidak itu saja, dengan kata-kata Bapak yang sering saya dengar di meja makan, dadi wong ki sing ikhlas, sing akeh syukure, saya mencoba untuk selalu mensyukuri apa yang ada. Bapak sering menekankan, bahwa kami harus berani dalam menghadapi segala permasalahan yang ada. Mencari jalan keluar, ihktiar kemudian  serahkan kepada Allah. Syukuri apapun hasilnya, pasti ada hikmah sekecil apapun. Pesan Bapak tidak hanya dengan kata-kata, namun tampak jelas dari caranya memandang dan menjalani hidup.

Kami sekeluarga di Slawi
Pernah satu hari, Bapak baru pulang dari SMA Muhammadiyah Margasari, Kabupaten Tegal, sekolah dimana Bapak sebagai Kepala Sekolah sekaligus salah satu pendirinya, kebetulan saya ikut menemani ibu “jaga warung”, warung kecil usaha Ibu dengan menjual kebutuhan sehari-hari, mulai dari beras, gula, teh gopek, minyak goreng sampai kacang kulit dan permen yang suka tak cemil kalau pas “tugas jaga warung”. Waktu itu awal bulan, bulan apa, saya lupa, yang jelas hari itu adalah payday bapak, biasanya pada tanggal tersebut Bapak akan memberikan amplop gajian secara utuh ke Ibu, namun tidak pada hari itu, harapan mendapat gajian Bapak yang sudah ditunggu tidak terjadi. Malah dengan tenangnya Bapak cerita bahwa istri teman guru di sekolahnya melahirkan, dan istri serta anaknya tertahan di rumah sakit karena masalah biaya, dan amplop gaji Bapak, diserahkan semuanya. Ibu kaget dan spontan bertanya, “trus yang di rumah makan apa Pak?” dengan tenang Bapak bilang, “iki esih ono beras”, sambil menunjuk beras dagangan ibu, “suk insyaallah ana rejeki liyane”. Ibu hanya bisa menerima dan maklum adanya.

Rezeki itu sudah ada yang mengatur, kalimat yang jamak kita dengar, tapi untuk mnyakininya perlu latihan dan kesabaran, dan juga ikhtiar. Jadi ingat waktu kuliah dulu, 2 hari menjelang ujian skripsi, naskah sudah dimasukkan ke fotokopian dan tinggal diambil, tapi duit untuk “nebus” tidak ada, bahkan untuk makan besok saja belum tau darimana, tapi entah mengapa, saat itu begitu yakin ada jalan keluar. Dan Allah Maha mengetahui akan kebutuhan Hamba-Nya, tiba tiba habis ashar, datang teman membawa “proyek terjemahan” berlembar-lembar, diminta dalam waktu 5 hari, naskah terjemahan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia sudah selesai. Tak perlu menunggu 5 hari, dalam satu malam, terjemahan telah selesai dikerjakan, dan hasilnya dapat buat ambil fotokopi-an skripsi dan makan satu minggu.

Nikmat memang ketika kita yakin pada ketentuan Allah, tingkat pasrah yang diajarkan Bapak sedikit menular pada saya, walaupun dalam kadar yang naik turun. Sampai sekarang ketika timbul permasalahan atau peristiwa dan membuat saya bersedih. Satu kalimat Bapak yang membesarkan hati dan memotivasi untuk terus berusaha adalah nDuwe Gusti Allah kok bingung… (fie’)

 

3 Ramadhan 1443 H

 

 


Tentang Pak Anwas #9: Islam Mengajarkan Demikian

  Sabah adalah negara bagian yang kami tempati ketika tinggal di Malaysia, tidak hanya di Kota Kinabalu, Ibukota negara Bagian Sabah, bebera...